Sasi Laut Ibu-Ibu Kampung Kapatcol Misool “Petuah untuk terus menjaga dan melestarikan kehidupan”

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Pagi itu perahu yang kami tumpangi merapat di dermaga kampung Kapatcol, Misool. Perjalanan sejam lebih dari kampung Harapan Jaya tak terasa, laut  teduh tak berombak. Kapatcol adalah salah satu kampung di Misool yang masih terus melakukan Sasi Laut.

Saya  berjalan dari dermaga menuju perkampungan yang jaraknya kurang lebih 500 meter. Kampung Kapatcol tidak terlalu besar dan cukup asri. Hanya ada satu jalan utama yang membelah perkampungan, sebelah kanan jalan rumah-rumah yang berhadapan langsung dengan laut sedangkan sisi kiri dibawah kaki gunung.

Kondisi geografis inilah  mempengaruhi keseharian dan mata pencaharian masyarakat Kapatcol yakni sebagai nelayan dan bekerja di kebun. Masyarakat Kapatcol 33 tahun silam mendiami pendalaman Misool di kepala Air kampung Biga. Namun sejak 1985 pemerintah memindahkan warga kampung dengan alasan akses masuk yang susah dan sulitnya penanganan kesehatan jika ada kejadian luar biasa seperti terserang penyakit.

Sasi Laut sebagai tabungan dan harapan

Hanya ada satu lapangan Volley tempat bertemu warga Kapatcol yang  saban sore ramai dikunjungi, tua muda, anak-anak ikut memberi semangat meski tak ikut bermain. Di kejauhan mata saya tertuju pada ibu paruh baya yang duduk di pojok lapangan, tak salah lagi itu “Mama Almina” ketua kelompok sasi Ibu-Ibu Kapatcol. Saya berjalan mendekati dan menyapa ” sore mama apa kabar! sore Wan kabar baik, ini saja nihh lutut kiri mama agak berat tara tahu kenapa lagi”. Saya memanggil beberapa teman yang ikut serta dalam perjalan kali ini untuk diperkenalkan dengan  dengan Mama Almina.

Mama Almina ternyata pemain Volley semasa mudanya dan sering mewakili kampung dalam pertandingan 17 agustus di distrik (Kecematan). ” Mama dulu pemain Volley juga cuma sekarang su tara bisa pukul bola cukup tepuk tangan dari pinggir lapangan saja kenangnya  sambil tertawa”

Sasi bagi masyakat Papua sangat kental dengan kepercayaan menjaga alam dan menekan sifat tamak dan serakah. Sasi juga lah  yang turut serta melindungi alam papua dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Sasi diartikan sebagai larangan mengambil dan memanfaatkan sumberdaya alam dalam kurun waktu yang telah disepakati.

Almina berkisah sasi sudah ada sejak dulu, secara turun temurun leluhur mereka melakukan sasi. Namun sasi ibu-ibu di Kapatcol baru saja ada 5 tahun lalu yang dipelopori oleh tokoh perempuan Ibu Betsina Hay meninggal tahun 2016. Almarhum Betsina Hay menjadi tokoh sentral kebangkitan kelompok perempuan di Kapatcol. Betsina dan ibu-ibu menghadap kepala kampung dan pemilik hak ulayat meminta lokasi laut untuk kelompok ibu-ibu.

Belajar dari Kegagalan

Sasi Laut yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat saat ini diawali dengan kegagalan. Mereka pernah menutup sasi selama dua tahun dan tidak memperoleh hasil yang baik. Pendampingan yang dilakukan oleh The Nature Conservancy memberikan harapan bahwa perlu ada peningkatan kapasitas dan pengetahuan terkait pengolaan sasi di kampung Kapatcol. Pemuda kampung, ibu-ibu dan tokoh masyarakat bahu membahu belajar tentang biota sasi dan cara pemilihan lokasi yang tepat.

Jeri payah mereka terbayar, tahun 2017 hasil buka sasi sangat memuaskan, lobster dan teripang melimpah. Ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok Sasi membagi tugas dengan baik. Ada yang bertugas Molo atau menyelam, membersihkan teripang, dan mengontrol hasil panen untuk memastikan masyarakat tidak mengambil ukuran yang kecil diluar kesepakatan bersama. Aturan panen ini juga bertujuan untuk menjaga populasi biota sasi agar tetap lestari untuk tetap bisa  dimanfaatkan dimasa yang akan datang.

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Baca Juga

USMAN

Pemotong Ikan Usman (43) asal Maros Sulawesi Selatan. 16 tahun menjadi sopir angkot di Jayapura. Dua tahun terakhir pindah ke Sorong dan bekerja sebagai tukang

Selengkapnya »