Kampung Tanpa Keluh Kesah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram
Memutuskan bergabung dengan The Nature Conservancy (TNC) membawaku hingga ke tanah Papua tepatnya Raja Ampat, tempat yang 10 tahun terakhir ini sangat  kesohor dengan panorama alam lautnya yang luar biasa. 

 Kali ini saya akan bercerita tentang Kampung Limalas, Misool Timur.

Dari arah laut kita akan langsung melihat pemandangan khas kampung pesisir, dengan pantai yang indah, pasir putih dan pohon kelapa di sepanjang pantai, Perjalanan panjang dari selatan Misool kantor lapangan TNC menuju Limalas selama 4 jam menggunakan Body (perahu kayu 15 pk) terbayar sudah, dengan pemandangan yang luar biasa.  
Kampung ini cukup asri dan tertata dengan rapi, kita tidak akan menemukan sampah berserakan disepajang jalan kampung, halaman rumah dihiasi dengan bunga-bunga menambah kesejukan. Masyarakat Limalas tidak akan kesulitan air bersih karena setiap rumah di aliri pipa-pipa air yang bersumber dari mata air gunung dan  tidak pernah terputus meskipun musim kemarau tiba. Sumber mata Air ini juga akan mengairi kebun-kebun warga yang biasa ditanami sayur mayur.

Brrrurrr Segar pace, siram teruss 

Sungai Kecil  di Kampung Limalas Misool Timur, sumber mata air tak pernah putus meski Musim Kemerau Tiba.

 Fasilitas Umum 

Sekolah 

Jenjang pendidikan di Kampung Limalas hanya tersedia dari PAUD hingga SMP, jika ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi anak anak Limalas harus siap meninggalkan kampung untuk  di kirim oleh orang tua mereka ke Distrik atau ke kota sorong, tidak banyak dari generasi muda kampung ini yang melanjutkan sekolah hingga SMA, karena terkendala biaya pendidikan dan sarana  transportasi yang cukup sulit.

suasana pagi hari di gedung paud kampung Limalas, anak-anak asik bermain dan belajar

Lapangan Bola

Ditengah kampung kita dapat menjumpai lapangan  bola, yang sebagian besar di tumpuhi oleh rumput yang cukup tinggi, sepertinya tidak terawat, setiap sore anak-anak kampung Limalas biasanya bermain bola atau main perang-perangan disekitar lapangan.
Geraja
Mayoritas masyarakat Limalas pemeluk agama Kristen, di kampung ini terdapat gereja  dan kantor Klasis Geraja  Misool, sehingga segala keperluan yang berkaitan dengan gereja, dilayani disini.
Dermaga
Dermaga kampung sudah lama rusak dan terputus, perahu biasanya ditambatkan di laut jika musim tenang dan dinaikan ke pantai jika musim ombak besar, untuk menaikan perahu ke pantai masyarakat lakukan bersama-sama (gotong-royong).
Komunikasi

Sarana komunikasi di kampung ini sangat terbatas, tidak tersedia jaringan telpon selular yang disediakan oleh pemerintah maupun swasta, hanya ada satu tower telpon satelit yang dibangun oleh salah satu calon anggota dewan pada masa-masa kampanye pilkada, untuk berhubungan dengan dunia luar masyarakat kampung  mengandalkan telpon satelit, yang mereka sebut Hp ceria tentunya dengan harga pulsa yang cukup mahal. Hp ceria biasanya hanya dimiliki oleh kepala kampung, pengurus gereja atau masyarkat yang berkecukupan. 
Listrik (Penerangan)
Listrik kampung menyala pada jam 6 sore hingga 10 malam, karena terkendala supplay bahan bakar minyak, listrik kampung lebih banyak tidak beroperasi, sehingga pada malam hari kampung ini gelap gulita hanya diterangi oleh lampu minyak dan petromas, tetapi ada juga beberapa keluarga yang menggunakan jenset pribadi untuk penerangan.

Anak Limalas bermain dengan Lampu minyak

Dengan keterbatasan yang ada, tak pernah sedikitpun saya mendengar keluh kesah dari masyarakat kampung, memaki pemerintah, menyalahkan orang lain, mereka tetap ramah dan hidup dengan damai. Ketergantungan akan teknologi dikampung ini sangat minim, permainan anak-anak pun masih tradisional yang bagi saya anak-anak Indonesia masa kini sudah dilupakan bahkan punah antara lain permainan benteng, Engklek di Misool disebut Kiti-kiti, dan Perang-perangan (senjata terbuat dari kayu, dan muka diolesin arang)

Permainan Perang-Perangan Ala Anak-Anak Limalas

“Anak-Anak ini tak pernah mengeluh”

Bagikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on telegram

Baca Juga

USMAN

Pemotong Ikan Usman (43) asal Maros Sulawesi Selatan. 16 tahun menjadi sopir angkot di Jayapura. Dua tahun terakhir pindah ke Sorong dan bekerja sebagai tukang

Selengkapnya »

Cerita lain Pulau Arborek

Pariwisata memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan tetapi tak jarang masyarakat lokal hanya sebagai penonton setia. Pulau Arborek menjadi salah satu destinasi wisata paling populer

Selengkapnya »